Konflik Drakor

Karena masa pandemi ini, yang mengharuskan kita #dirumahaja, jadinya saya cukup produktif ngikutin on going drakor,..

abisnya ya gimana, itu hiburannya hahaha.

Drakor yang saya sukain emang tipe romcom, soalnya tidak berat, hidup ini udah berat kaka,.. jadinya kalo nonton ga usah yang susah2 musti mikir deh,..

eh tapi,..

Saya mulai jenuh dengan tipe romcom, udah kebaca pola-nya, kalo total episodenya = 16, maka mulai episode 13-14 itu pasti akan muncul konflik, ep 15 akhir rekonsiliasi, trus happy ending di 16.

Yang bikin malas itu kalo konfliknya too much,.. berbelit2 hanya untuk masalah yang sama. Tiap nemu tontonan kaya gini, mendingan di skip aja dah.

Mendingan episode-nya dipadatin aja jadi 12, tapi ga usah bikin konflik berkepanjangan, krn poin masalahnya sama.

Berikut drama on going dan konfliknya yang lagi saya tonton :

  • Dinner Mate —-> Oppa Song Seung Heon-nya ganteng ya, udah tua sih, tapi masih berkharisma. Baru kali ini nonton drama dia, setelah drama jadul Autumn in My Heart. Drama ini ringan sih, tapi konfliknya malesin aja, itu para mantan pacar-nya too annoying. Mana ada sih orang yang udah ninggalin pacar-nya bertahun2, terus minta balikan serasa dia ga punya salah,… dan maksa si mantan untuk nerima mereka balikan dengan tangan terbuka.
  • Oh My Baby —> Jang Nara as always masih awet muda aja. Lucu di awal2nya, tapi lama2 koq agak membosan-kan ya. Ini konfliknya rada ketebak, pasti nanti si cowonya ninggalin dia krn merasa tidak berguna dan tidak bisa bahagia-kan si Jang Nara ,… …. Oh drama, apa ga bisa dikomunikasikan sih. Ya namanya juga cerita ya,…
  • Backstreet Rookie —-> baru 4 episode, belum tau apa konfliknya, tapi ya akan kurleb sama lah, jadian trus putus. Baru kali ini nonton drama abang Ichang, belum merasa terkesan, masih biasa aja. Ya ikutin drama ini untuk isi waktu luang aja, belum terkesan sama cerita or pemainnya.
  • It’s ok not to be okay —-> baru kali ini juga ikutin drama-nya Kim Soo Hyun, yang katanya aktingnya jempolan. Well tertarik melihat drama ini karena melihat sosok Kim Soo Hyun yang berbeda dengan foto2nya yang manis. Jadi let’s try deh nonton ini. Ini cukup menarik karena jalan ceritanya berbeda. Semoga tetap bagus dan tidak membosankan.

Ya namanya juga drama ya, kalo ga ada konfliknya mana ada ceritanya,… Tapi please deh jangan dibuat berbelit2 untuk 1 masalah yang sama. Lhoo koq saya yg ngatur, suka2 penulis cerita atuh ya,.. penonton mah nerima aja. Take it or Leave it.

Salam Drakor.

A Piece of Your Mind

Masih edisi drakor lagi, lama2 ini blog isinya tentang drakor kayanya,… haha. Gpp deh, daripada ga ada isinya, lebih baik kita berbagi informasi tentang drakor. Setuju ?

Awal tau drama ini dari FB salah seorang teman yang penulis, biasanya rekomendasi dari dia itu bagus, jadi pas dia bikin sinopsis drama ini, jadi tertarik untuk nonton.

,..

1 episode,.. 2 episode,.. masih belum ketauan ini sebenernya cerita apa sih. Iyes cerita tentang mau bikin alat digital yang bisa ngomong, tapi story behind dll-nya belum keliatan.

Ok mari kita kasih kesempatan lagi,..

episode 3, episode 4,

Masih berkutat di 2 tokoh utama (Chae So Bin + Jung Hae In) yang masih belum jelas juga mereka itu mau ngapain…

dll sampai episode 8, masih belum keliatan benang merahnya. Konfliknya belum ada, tokoh pendamping (Lee Ha Na + cowo satunya) masih belum jelas juga kisahnya..

.

Ah dan akhirnya saya menyerah memutuskan stop sebelum selesai nonton episode 8.

Dan ternyata pihak produksi membuat episode ini dipercepat endingnya, dari yang tadinya 16 episode, dikurangin jadi 12 episode, ya maybe karena rating yang jelek.

.

Well, jujur dari beberapa taun saya nonton drakor, baru kali ini nonton drama yang ga jelas mau cerita apa, sampai episode 8. Ya ada sih alurnya, tapi terlalu lambat, sampai akhirnya bosan sendiri, ini mau kemana sih ceritanya,… 🙂

Ya sudah lah, mari kita luangkan waktu untuk nonton drama lainnya, mendingan ngulang nonton drama lama ah,..

Salam Drakor

Forest – Korean Drama

Setelah masa kejenuhan dan kebosanan nonton Drakor di tahun 2019, di tahun 2020 ini mulai nonton lagi, gara2 liat drama di KBSWorlds.

Awalnya nonton Women of 9.9 Millions,. ini ceritanya lumayan seru dan menegangkan, tapi jangan berharap ada adegan romance di drama ini :), pengganti drama ini adalah Forest.

Ketika tayang (dan lagi2 nonton-nya di KBSWorlds), awalnya kurang interest, karena ga terlalu tau pemainnya, cuman tau lead female si Jo Bo Ah yang aktingnya kadang suka “menye”, lead malenya belum pernah nonton film dia. Setelah suka liat cuplikannya di youtube, jadi interest untuk nonton,..

Setelah nonton, koq jadi keterusan ya,. ceritanya lumayan bagus, banyak quotes yang bisa dijadikan referensi untuk hidup kita. Interaksi lead male dan lead female, bagaimana mereka mengatasi problem masa lalu mereka. Chemistry keduanya kalo menurut saya sih bagus ya.

Dan si Park Hae Jin mendadak jadi ganteng karena perannya hahaha,..

Setelah dikebut dalam 1 minggu kelar deh nonton 16 episode (atau 32 episode @30 menit) endingnya susah move on dari drama ini,.. haha

Sekarang sedang download Cheese In the Trap buat nonton drama si Park Hae Jin lainnya, padahal selama ini ga pernah interest, krn melihat pemain cewenya koq berantakan banget ya haha.

Gara2 mau liat Park Hae Jin lagi, jadi nonton ah Cheese in The Trapnya, yang reviewnya kan lumayan bagus yaa,..

Salam Drakor,…

#tiba2 jadi fansnya Park Hae Jin

Drakor – edisi drama “receh”

Kembali mengulas tentang drakor di tahun 2019 ini. Di tahun 2019 ini sudah menyelesaikan beberapa drama korea, dan ada 2 drama yang saya kategorikan drama “receh” tapi so far seneng aja sih nonton-nya.

Since saya mah nontonnya cuman buat seneng2 dan hiburan aja, ga mau mikir yang berat2, karena hidup ini udah berat kaka,… (et dah,..)

Kenapa disebut drama “receh” ya tidak lain dan bukan karena konfliknya ga berat, ceritanya bisa ketebak, dan koq kaya dunia impian banget ya, di realitas nyata mah hello mana ada yg kaya gitu :D.

Ya anyway busway, karena nonton untuk seneng2, dinikmati aja lah, plus jadi suka sih sama si pemeran cowonya ,.. haha

Dan judul drama “receh” itu adalah,…

Touch Your Heart

Karena drama ini, jadi suka sama Lee Dong Wook (LDW), padahal mah tau actor ini udah lama ya, tapi selama ini ga pernah tertarik buat nonton drama yang dia mainkan, dan baru realized aja sih, pernah nonton drama LDW jaman duluuuu banget, pas main jadi My Girl. Tapi asli lupa, gimana dulu karakternya, since itu kan drakor jadul, udah lama pisan.

Drama ini konfliknya ga berat, cenderung tiap episode membahas tentang kasus si pengacara, sementara konflik pemain utama kalo ga salah cuman 1 episode aja.

Trus yang kasian si second lead male and female, ceritanya kurang terexplore, jadi kesannya mereka cuman pemanis doank sih.

Her Private Life

Baru pertama tau sosok Kim Jae Wook (KJW), ternyata ganteng juga,.. haha, apalagi peran dia di drama ini beeeuh dah, sosok impian para wanita banget kayanya.

Kata orang, peran Park Min Young di drama ini ga beda jauh sama di What’s Wrong with Secretary Kim, tapi saya ga ngikutin sih si Secretary Kim itu, ga tau, biar katanya lucu, tapi kurang tertarik aja, mungkin males liat ke-narsisan si Park Seo Joon yang menurut saya sih dia kurang ganteng.

Drama ini juga minim konflik, ada sih konfliknya tapi koq kayanya cepat banget selesainya, tokoh yang berkonflik sangat dewasa sekali menyikapi konflik, jadi cepat kelar haha.

Ya ada learning pointnya sih dalam drama ini, dimana dalam suatu hubungan itu harus saling support, dan semua hal dikomunikasikan.

Drama ini udah abis masa tayangnya, jadi ga bisa liat kegantengan si KJW lagi deh.

Katanya si KJW pernah main bagus banget di Voice 1, jadi psikopat, tapi saya malas nonton drama yang genre-nya kaya gitu,..

 

Karena drama Her Private Life sudah tamat, mari kita hunting drama baru lainnya.

Salam Drakor

DRAMA KOREA yang ditonton di 2018

Selama tahun 2018 ini, cukup banyak film yang ditonton, berikut saya rekap berdasarkan yang masih diingat. Kalo ga diingat, artinya ya kurang berkesan wkwkwkwk :

Yang ditonton sampai selesai :

I am Not A Robot

Sebenarnya ini drama tahun 2017, tapi baru saya tonton di bulan Oktober lalu karena lagi ga  ada film yang ditonton.  Akhirnya coba nonton drama ini, karena baca sinopsisnya kayanya cukup menarik.

So far ceritanya ringan, tokoh antagonisnya cukup masuk akal, tidak terlalu jahat, dan banyak adegan kocaknya (terutama Tim Santa Maria).

Lesson Learn yang bisa diambil apabila kita punya kelemahan/kekurangan/sakit, kita harus acceptance dengan kondisi diri sendiri, setelah tahap acceptance, maka baru bisa kita perbaiki kekurangan tsb.

Welcome to Waikiki

Drama ini lucu, kisahnya ringan, dan selalu tertawa di tiap episodenya. Meskipun ada karakter annoying yang tidak dewasa macam Jung Ki, dan karakter naïf macam Yun Ah, tapi ya itu lah bumbu dari drama ini.

Tiap episode ada kisah yang berbeda yang diangkat, tapi masih related, dan story line-nya cukup nyambung.

The House Helper

Kisah drama ini cukup unik, tema-nya tidak pasaran. Cerita tentang keseharian para wanita yang slebor, ga pernah bersihin rumah, dan ada 1 pria yang profesional sebagai house helper.

Cukup menarik drama-nya, alurnya lumayan bagus, si house helpernya (Ha Seok Jin) berperan dengan baik (berbeda dengan acting dia di drama lain yang lebih sering jadi cowo suka marah2 dan egois).

Drama ini niat banget, krn kisahnya tentang house helper, tiap episode ada tips2 seputar kebersihan.

Risky Romance

Drama ini cukup ok ditonton, meskipun di awal cerita cukup annoying dengan karakter tokoh utama pria yang selalu marah-marah (Well itu katanya akibat operasi karena ada benturan di otak, jadi kepribadiannya berubah).

Ketemu dengan doctor cewe spesialisasi hormone yang lucu, dan si tokoh utama salah sangka karena pikir si dokter cewe ini yang menyebabkan kematian temannya.

Singkat kata mereka jatuh cinta, dan si cowo ternyata ga boleh jatuh cinta, karena mempengaruhi sel syaraf di otaknya, dan bisa menyebabkan kematian.

So far sih drama-nya cukup baik, tapi endingnya kurang cakep.

Kisah antara si dokter cewe dengan adiknya yang jahat (tokoh antagonisnya) koq nanggung ya. Si jahatnya tidak terlihat perubahan karakter menjadi lebih baik, tiba2 endingnya mereka kakak adik baikan.

The Beauty Inside

Ini drama remake dari film korea dengan judul sama.

Pas baca sinopsisnya sih sebenernya ga terlalu tertarik, karena secara cerita ga masuk akal (saya ga suka drama yang ceritanya fantasi), tapi karena yang main Lee Min Ki (haha,.. tbh I like him, ga ganteng sih buat ukuran cowo korea, tapi manly dan berkarisma).

Setelah nonton, bagus alur drama-nya, video dan sound editingnya bagus, dan chemistry lead actor-nya bagus (Lee Min Ki + Seo Hyun Jin).

Second Lead-nya juga unyu2 (Lee Da Hee + Ahn Jae Hyun), dengan kisah yang cukup standard lah, dimana anak orang kaya tapi kesepian dan ingin membuktikan bahwa dirinya mampu.

The Undateables

Ini drama receh, ceritanya mudah ketebak, dan kurang dalam untuk pendalaman masing-masing karakternya.

Katanya ratingnya sangat jelek di korea sana. Chemistry lead actornya menurut saya bagus, meskipun secara acting si Hwang Jung Eum lama2 membosankan sih, karena hampir sama di semua drama rom com dia.

Should we kiss first

Ini kisah drama untuk usia 40 tahun ke atas. Awalnya nonton karena Kim Sun Ah, jadi deh nonton drama ajushi dan ajumma.

Cerita standard tentang pernikahan kedua, yang diawali dengan kebohongan. Tapi seiring waktu, ketika semua pihak membuka diri, maka pintu maaf dan kebahagiaan itu datang.

Go Back Couple

Ini drama bagus. Ceritanya menarik dan related banget sama pasangan menikah, dimana ada kalanya terjadi pertengkaran karena factor komunikasi.

Acting lead actornya bagus, dan cerita actor pendukungnya juga membuat drama ini semakin berkesan.

My Husband Mr Oh

Drama ini cukup panjang ada 24 episode. Secara cerita sih common tentang kawin kontrak, akibat tuntutan lingkungan. Namun ada related story antara kisah kawin kontrak tsb.

So far ceritanya dikemas cukup menarik untuk diikuti, chemistry UUE dan si actor cowo (maap lupa namanya dan malas browsing) bagus.

Tapi agak terlalu panjang sih drama-nya, mungkin karena tokoh antagonisnya dibuat terselubung, jadi perlu dibuat story yang menghubungkan itu semua (di awal saya ga nyangka kalo dia tokoh jahatnya hehehe).

Yang ditonton dari awal, trus skip beberapa episode karena bosan :

Revolutionary Love

Sempat ikutin sampai episode 10, tapi setelahnya ga dilanjutkan, sesekali lanjut baca sinopsisnya aja. Entah kenapa menurut saya ceritanya agak membosankan.

Devilish Charm

Ini drama agak lucu alurnya, di episode awal si tokoh utama udah saling jatuh cinta, setelah itu baru deh konflik bermunculan.

Kisah cinta-nya receh lah, ala2 drama pada umumnya, si tokoh cowo anak orang kaya, si tokoh cewe orang miskin (meskipun tadinya kaya, karena artis terkenal).

Yang bikin malas nonton-nya, si tokoh antagonisnya too much, jadi secara cerita malah jadi ga masuk akal, dan alur kisah –nya cukup lambat, sehingga agak membosankan.

Fluttering Warning

Ini drama Yoon Eun Hye setelah 5 tahun vacuum.  Episode awal (1-4) masih bagus, chemistry antara Yoon Eun Hye dan Chun Jun Myung ok, dan karakter si chun jun myung tuh bagus di awal-awal, karakter cowo yang mau melindungi cewe-nya.

Nah setelah episode lanjutan, konfliknya itu2 aja, seputar perebutan kekuasaan, dan dari sisi productionnya koq kurang cakep ya, tidak enak dilihat gitu.

Yang bikin malas nonton  itu, alur cerita nya aneh, karakternya tidak mendalam dan setengah2, jadi ceritanya gantung ga jelas. Intinya acting tokoh utama sih lumayan enak dilihat, tapi dari sisi alur cerita jelek.

Yang cuman ditonton sekilas, sisanya baca synopsis doank

Still 17

Drama ini juga diikutin sekilas aja, lumayan lucu ceritanya, tapi koq saya kurang suka sama tokoh utama cowo-nya. Ga tau kenapa, ini mah selera aja. Hahaha. Jadi ngikutinnya rada malas, cuman sesekali aja.

What’s wrong with secretary Kim

Banyak orang suka dengan drama ini, tapi saya tidak terlalu suka. Lucu sih, tapi ceritanya terlalu receh dan too much aja gitu. Too good to be true aja kalo punya bos kaya gitu.

Lovely Horibly

Nonton drama ini sekilas2 aja, kalo pas ceritanya lagi bagus. Begitu cerita hantu2 dimulai, diskip nontonnya.

Menurut saya tidak terlalu menarik, compare dengan cerita sejenis yang pernah saya tonton (Master Sun), lebih bagus alur cerita Master Sun.

The Third Charm

Sempat ngikutin drama ini sampe episode 6, setelahnya ga dilanjutin lagi.Story line-nya membosankan, hanya drama biasa, dg konflik yang aneh.

Yang lagi on going ditonton :

Top Star Yoo Baek

Drama ini cuman seminggu sekali, tapi sekali tayang 90 menit. So far ceritanya lucu sih, dan saya koq jadi suka sama si pemeran utama nya si Kim Ji Suk.

Secara alur cerita bagus sih, memperlihatkan hubungan antar manusia yang harmonis

Clean With Passion For Now

Secara cerita, menurut saya hampir mirip dengan I am not a Robot, cuman ga ada karakter robotnya aja.

Intinya ada cowo yang alergi kotor karena factor psikologis masa kecil. Alerginya sembuh setelah ketemu cewe, dan jatuh cinta deh dengan si  cewe-nya.

Ini masih on going, dan so far sih masih menarik untuk ditonton lebih lanjut.

Fate & Furies

Tertarik untuk nonton ini karena tokoh utama-nya Lee Min Jung dan Joo Sang Wook yang sebelumnya pernah main di Single Cunning Lady.

Dari sisi karakter, saya suka dengan karakter Lee Min Jung, berbeda dengan karakter yang pernah dia mainkan sebelumnya. Terlihat sebagai sosok wanita yang keras, karena terpaan hidup.

So far sih masih mau ngikutin drama ini sampai selesai, kalo ceritanya masih make sense dan tidak membosankan.

My Stranger Hero

Ikutin drama ini sampai episode 5, setelah memutuskan ga lanjutin lagi, karena ceritanya rada membosankan.

Kisah orang dewasa yang dulu DO pas SMA, terus balik sekolah lagi.

Sedikit membahas sisi kelam dunia pendidikan, mungkin sih di cerita ke depannya akan reformasi di dunia pendidikan ini kali ya.

===========================================================================

Wah ternyata saya cukup produktif ya dalam ……… nonton drakor haha :))  maklum lah untuk hiburan, supaya mamak tetap happy.

Well, mari kita sonsong tahun 2019 dengan nonton film baru

Happy New Year, Salam Drakor.

Bye Chrysalis Preschool

Libur telah (hampir) selesai,.., waktunya back to school,.  tapi mama belum rela bangun (LEBIH) pagi, hahahaha.

Anyway busway, pada kesempatan ini saya mau ucapkan goodbye to Chrysalis, sebuah sekolah yang telah menjadi bagian dari langkah sekolah dua bocah saya selama 4 tahun ini.

Chrysalis ini lokasinya deket sama kompleks rumah, jadi cuman jalan kaki (ini salah satu pertimbangan memilih sekolah di sini :D). Sekolahnya berada di ruko (3 ruko dijadikan satu), dengan tingkat sekolah mulai dari Young Toddler (1-2 tahun), Toddler (2-3 Tahun), Preschool (3-4 tahun), sampai K2.

Untuk tingkat todder – preschool, 1 kelas terdiri kurleb 20 anak, dengan 1 guru kelas dan 2 guru pendamping. Kalo tingkat lain saya kurang tau, krn anak saya cuman sekolah di sini pada jenjang Toddler – Preschool saja.

Selain sekolah, chrysalis juga ada day care-nya, dengan beberapa pilihan waktu day care. Bagi anak2 yang ikut daycare seharian, maka akan ikut sekolah pada jenjang sesuai umurnya.

Dua bocah saya sekolah di chrysalis pada tingkat Toddler – Preschool, si koko 2014-2016, dan si dede (2016-2018).

So far selama 4 tahun mengenai sekolah ini, ada banyak hal positif dalam perkembangan anak saya, di antaranya :

  1. Dua anak saya lancar berbahasa inggris tanpa les tambahan dan komunikasi di rumah dalam bahasa Indonesia, karena komunikasi di sekolah in English.
  2. So far sekolah bisa handle ‘keras kepala’ si dede. Saya sempet worry, dengan karakter si dede yang keras, gimana proses dia di sekolah. Untungnya si dede dan gurunya bisa berinteraksi dengan baik. Si dede mengerti ada otoritas di sekolah yang harus dia ikutin, meskipun dlm bbrp hal masih keras kepala, namun dia nurut sama gurunya.

Guru di level Preschool cenderung kurang manis, alias straight to the point, no basa basi dan realistis, memberikan semua informasi baik dan buruk perkembangan anak kepada orang tua. Guru ini adalah adik dari kepala sekolahnya, saya rasa dia adalah founder dari sekolah ini. Selalu mengajar di preschool, sepertinya karena Preschool adalah foundation menuju TK, sehingga anak-anak perlu dipersiapkan dengan baik.

Mungkin kekurangannya (minor sih menurut saya mah) adalah gurunya terlihat kurang “berkelas” bagi sebagian orang. Tapi buat saya sih ga masalah ya, don’t judge the book by its cover, as long as mereka bisa handle anak dan punya jiwa mengajar/melayani anak dengan kasih, tampang bukan masalah.

Saya pernah coba untuk daycare-nya, pas kebetulan si dede ga ada yang jaga, so far sih buat si dede merupakan pengalaman menyenangkan, dia bisa bermain after school, tidur siang, mandi dan makan di sekolah. Oh ya day care di chrysalis tanpa makan ya, jadi kalo nitip anak di sini, harus prepare bawa makan dari rumah.

So far buat saya chrysalis cukup rekomended, jumlah murid emang tidak terlalu banyak (1 tingkat hanya ada 1 kelas), karena sekolahnya di ruko, space-nya terbatas. Pelajarannya mixed antara bermain dan belajar, tidak ada paksaan target yang harus dipenuhi. (Buat ortu yang kompetitif mungkin tipe ini kurang cocok ya hehehe).

Well, thank you chrysalis, see you next time. Sukses selalu yaaa,..

Waktunya Mama berjuang bangunin si dede jam 5.45 pagi di minggu depan, karena si koko udah masuk SD, yang kudu masuk jam 7 pagi, sementara si dede yang biasanya sekolah jam 8, harus ikut berangkat sekolah bareng koko, karena biar sekalian anternya 😀

Ciayoooo,…

Kalo mau info lebih lanjut ttg Chrysalis, ini alamatnya :

Ruko Paramount Sparks, Jl. Boulevard Raya Gading Serpong Blok A No.12- 15, Klp. Dua, Tangerang, Banten 15810

Trip to Yogyakarta 29-31 Maret 2018 – Part 3 (Wisata & Kuliner Day 2-3)

Hari kedua ini kami memutuskan untuk ke Hutan Pinus dan Wisata Seribu Batu Songgo Langit di Mangunan – Bantul, karena trip pertama cukup padat, dan wisata tsb adalah outdoor, kayanya lebih baik ke sana di sore hari

Jadi pagi harinya, mama+ oma belanja ke Pasar Beringharjo/Hamzah Batik Malioboro, pak suami + anak2 main di hotel.

Karena cuaca cukup panas, kita malas makan siang jauh, jadi kita makan Nasi Uduk Palagan yang cukup melipir nyebrang dari hotel.

Tempatnya cukup luas, tidak berAC, menu-nya dipilih di dekat kasir, dan nanti dihangatkan.

Cukup banyak menu yang disajikan, namun proses penyajiannya lamaaaaa banget.

Sebagian menu yang kami pilih :

Nasi uduknya cukup pulen, rasa sayurnya enak, dan harganya murah juga kaka,… Total makan siang itu cuman 130 ribuan aja.

Boleh lah kalo mo makan rumahan ala yogya, dengan rasa enak harga murah, tapi harus sabar nunggu ya.

Jam 12.30 kami berangkat dari hotel menuju Mangunan untuk mengunjungi Hutan Pinus dan area sekitarnya, namun sebelumnya mampir dulu di Tempo Il Gelato di Prawirotaman untuk makan gelato yang terkenal enak di Yogya dan murah.

Murah sih gelatonya, 2 scoop cuman 20 ribu, dengan rasa yang enak. Kami take away gelatonya, dan karena cuaca yang sangat panas, dari tempat gelato ke mobil, si es krimnya mencair hiks. So far rekomended gelato ini, krn enak dan murah, ramai tempatnya. Di prawirotaman ini tempatnya kecil, lebih besar yang di Kaliurang.

Perjalanan menuju hutan pinus cukup menanjak ya, sampai harus matiin AC mobil supaya tenaga-nya lebih kuat.

Sampai di Hutan Pinus Mangunan, harga tiket masuknya Rp. 2.500 untuk dewasa, anak2 di bawah sekolah SD masih gratis.

Enak sih adem di sana, ada penyewaan hammock juga, dan pengunjungnya ramai euy, mungkin krn itu hari libur ya, jadi semua orang pada berlibur.

hutan pinus

Dari hutan pinus, driver rental menawarkan ke Puncak Becici, tapi saya tolak, krn mostly hampir sama dengan hutan pinus Mangunan, dan memilih untuk ke Wisata Seribu Batu Songgo Langit.

Harga tiket masuk seribu batu sama kaya hutan pinus. Lokasinya lebih luas dan ada rumah2 dari kayu yang fotonya banyak beredar di med sos.

Ada juga macam rumah hobbit, yang menurut saya sih kaga mirip, dan juga ada tempat duduk dari kayu yang disusun seperti tempat nonton konser. Enak duduk2 di situ adem.

Bonus foto bocil lagi, yang lagi nongkrong 😀

seribu batu

Jam 4an, kami mengakhiri kunjungan di Wisata Seribu Batu Songgo Langit, dan karena dari situ tidak jauh ke Pantai Parangtritis, pak suami memutuskan sekalian ke pantai (padahal saya sih malas,.. #bukananakpantai, lebih suka gunung).

Pantai parangtritis tidak terlalu bagus sih, gersang dan kotor. Di sana cuman bawa bocah naek delman keliling pantai. So far mereka senang naik delman dan main kotor2an di pantai,.. mama yang ga seneng, krn kotor :p

Keluar dari area pantai udah hampir jam 6, saya pikir ini pasti harus cari makan malam dulu, krn kalo ke hotel dulu kemaleman, kasian bocah.

Driver rental menawarkan makan sate klatak, di daerah imogiri, karena searah. Pak suami sih setuju, krn considering menunya hanya kambing, si bocah ga bisa makan. Akhirnya ya sudah lah makan di kotanya aja, dan saya putuskan kita makan di Warung bu Ageng.

Suasana di Warung Bu Ageng enak, outdoor ala rumah jawa, cukup banyak turis asing. Makanannya sendiri masakah rumahan ala Yogya, dan harganya juga cukup murah untuk tempat yang dikunjungi turis asing.

Dari bbrp resto yang kita datangin, selalu penyajiannya lama, jadi kita pikir duh bakalan lama  lagi deh, padahal itu sudah jam 19.30, anak2 pasti udah kelaperan.

Eh surprisingly, penyajiannya cukup cepat, dan rasanya juga enak. Terlihat cara masaknya yang “niat”, krn bumbu masakannya cukup medok, meskipun tetap dominan rasa manis, tapi rempah yang dipakai berasa.

Kita order : nasi campur paru, 2 nasi pecel, ayam nyelekit, ayam panggang buat bocah(lupa nama aslinya), lele goreng.

Dari semua menu, rasanya enak, kecuali lele gorengnya, alot dagingnya, dan tulangnya banyak, krn gorengnya ga garing kali ya.

Total kerusakan makan malam itu 250 ribuan.

Mantap, rekomended untuk makan di Yogya, harga reasonable, rasa enak, suasana nyaman dan penyajian cepat. Warung Bu Ageng ini pemiliknya seniman Butet Kertaradjasa, atau ibunya ya ? dunno deh 😛

Day 3.

Agenda hari ketiga ini adalah leyeh2 di hotel, cari oleh2 dan main di Sindukusuma Edupark. Tempat lunch yang saya targetkan adalah Jejamuran. Ternyata perjalanannya cukup jauh menuju Jejamuran, dan begitu sampai sana (sekitar jam 12an) terlihat kerumunan orang di pintu masuk, saya udah pikir, ini pasti kena waiting list.

Dan benar saja, kita kena waiting list yang masih panjaaaaaang, sampe sana numpang ke wc, beli gorengannya (enak gorengannya), dan melihat ke area tempat makan. Ternyata sepertinya ada bookingan grup, sehingga 1 area tempat makan yang luas, dipersiapkan untuk grup tsb.

Karena kelamaan, setelah dari wc kami menyerah dan cari tempat makan lain. Belum rejekinya makan di Jejamuran, padahal belum pernah makan di sana, hiks hiks.

Ga ada ide mau makan dimana, yang penting sejalan aja, dan ketemu Mbo Berek Garden.

Menu yang standard, ayam goreng kremes, rasanya standard aja, kremesannya asin banget kalo ga pake nasi. Total harga untuk 1 ayam utuh, 1 tumis kangkung, 1 tumis toge, 1 bakul nasi putih, 1 soto ceker, 1 ati ampla, 1 sop ayam, 2 milo cuman 200 ribuan. Still ok lah untuk makan 7 orang.

mbok berek

Setelah kenyang makan, kita menuju Sindukusuma Edupark.

Begitu sampai sana, dari depan saya udah lihat, kelihatannya tempat ini tidak terawat dengan baik.

Tiket masuk dewasa 15 ribu, dapat 1 teh gelas, tiket terusan anak 45 ribu, dan terusan dewasa 70 ribu. Ada juga area Light Festival yang harus bayar lagi tiketnya 50 ribu (macam taman2 berlampu dan ada juga area mainnya yang keliatannya sih lebih baru).

Pak suami dan bocah beli yang terusan, sementara saya beli tiket masuk aja.

Areanya sendiri cukup luas, namun benar seperti dugaan saya, tempat ini tidak terawat, mainannya udah banyak yang berkarat. Ada 2 theather 4D, satu untuk house of terror, satu lagi animasi biasa.

Ada waterpark yang airnya bau kaporit dan sedikit kotor. Untuk waterpark ini termasuk dalam harga tiket masuk.

ske (5)

Area main yang masih lumayan adalah ferris wheel, meskipun pengap, krn tidak berAC, jadi udaranya yang segitu2 aja, dan main seluncur di rumput. Ini anak2 seneng, krn lucu dan sesuatu yang baru untuk mereka.

Jadi dengan bayar 45 ribu, anak saya cuman nonton 2 film 4D, 2x main seluncur, 2x ferris wheel, 1x merry go around, sama 1x mainan yang berbentuk gelas berputar2. Mainan lain ada bombom car, mobil gowes, sepeda angin di atas yang semuanya belum cocok untuk anak usia TK.

Buat saya sih tempat ini kurang rekomended, karena arena permainan yang terbatas, dan kurang terawat, jadi kurang worth it dengan harga yang dibayar.

Tidak sampai 2 jam kami di sana, dan kita memutuskan keluar dari tempat main tsb.

Dari sindu kami mencari tempat makan terakhir kami di Yogyakarta. Sempet kepikiran pengen makan Nanameria Pizza yang katanya enak itu, tapi jarak antara Nanameria dengan stasiun cukup jauh, jadi takutnya kami terlambat sampai stasiun, dan akhirnya kami makan di Madam Tan.

Madam Tan lokasinya di pinggir jalan, terlihat cozy dari luaran, dan masih sepi karena kami datang jam 5 sore.

Tempatnya enak untuk nongkrong santai. Menu makanan cukup variatif dan rasanya juga enak.

Total kerusakan makan malam kami sekitar 250 ribuan saja.

Menu yang kami pesan, fotonya gelap ya kaka :D, maklum amatiran.

Well, dengan berakhirnya makan malam kami, berarti berakhir pula liburan di Yogya selama 3 hari 2 malam.

So far kesannya :

  • Traffic Light di Yogya itu, lampu merahnya lama bener, jadi sebel nunggu macet karena lampu merah
  • Tempat wisata kekinian yang fotonya banyak direkomendasikan di website travel, tidak seindah yang diperlihatkan,.. well luar bisa ya, efek si medsos itu :p
  • Makan di Yogya itu murah meriah, itu yang saya suka (maklum tukang makan)
  • Penyajian makanan di Yogya cukup lamaaaaaa

Masih banyak tempat yang bisa diexplore di Yogya, ntar lah nunggu bocah lebih besar sedikit.

See you again Yogya

Trip to Yogyakarta 29-31 Maret 2018 – Part 2 (Wisata & Kuliner Day 1)

Lanjutan dari postingan sebelumnya di sini Trip to Yogyakarta 29-31 Maret 2018 – Part 1 (Transportasi & Akomodasi)

Pesawat kami sampai jam 6.45 on time, jadi kami keluar bandara jam 7 kurang, langsung ketemu dengan driver rental mobilnya.

Saya sudah bikin plan untuk makan di soto bathok, yang menurut google dari bandara ga jauh, paling 10 menit. Tapi kata driver-nya, soto itu kurang enak, dan dia rekomendasikan soto kadipiro atau soto apa gitu lah.

Singkat kata, kita makan soto di warung pinggir jalan. Di meja makannya, disajikan gorengan tempe, tahu, dan jeroan. Tempe-nya baru mateng masih hangat, dengan rasa bawang putih dan asin yang light. Si koko yang doyan tempe, makan tempe nya 2 pcs,..

Pesan 5 soto ayam, 1 soto daging, 2 perkedel, 1 tahu, 5 tempe, 3 nasi putih, total kerusakannya 69 ribu. Makan yang murah meriah. Rasanya : standard aja sih, tipe soto bening, yang isinya irisan daging, soun dan kering kentang.

Selesai sarapan, kami  menuju ke jeep merapi tour, perjalanan sekitar 45 menit dari tempat sarapan. Sebelumnya udah order via wa ke Lava Merapi Tour, dan udah diputuskan oma tidak ikut tripnya, krn takut medannya tidak cocok untuk orang tua, sehingga dua oma menunggu di base camp-nya, dan yang ikut trip hanya kami berempat (saya, pak suami dan 2 bocah).

Mejeng sebelum OffRoad

Kami pilih yang short trip (total trip 1-1,5 jam), mengunjungi 3 lokasi. Lokasi pertama adalah museum yang isinya rumah penduduk yang kena letusan merapi dan barang2 yang masih tersisa. Di depan rumah tsb ada tengkorak sapi.

Penilaian pertama saya, ini tidak cocok untuk bocah saya, yang belum belajar sejarah letusan merapi, di dalam rumah tsb cukup berdebu, sehingga bocah bersin2.

Ya cukup tau aja, kita di sana juga tidak lama, krn tidak banyak yang dilihat dan bocah juga blm mengerti apa yang diexplore dalam museum tersebut.

Lokasi perhentian kedua adalah Batu Alien. Sebenernya cuman batu besar, yang katanya mirip sama muka manusia, padahal sih biasa aja ah, hahaha,… #efektidakpunyajiwaseni

Cuacanya enak adem, ya karena di gunung kali ya. Di sana cuma foto2 aja sih, dan berfoto bareng burung hantu (bayar 10 ribu). Lumayan lah untuk refreshing udaranya enak. Di lokasi ini ketemu banyak rombongan, sehingga malas lama2, terlalu banyak orang.

Bonus foto, si bocil lagi bergaya :

batu alien3

Menuju lokasi ketiga, jalanan tambah parah lonjakannya. Saya sih ga suka hahaha (efek mama pemalas, sukanya liburan cuman tiduran di hotel, ga suka aktivitas fisik :P), tapi anak2 sih seneng2 aja, katanya mereka suka naek jeep :(.

Lokasi  ketiga adalah Bunker Kaliadem, tapi saya ga mau masuk bunker, dg 2 bocah yang ga bisa diam, kayanya ga cocok masuk ke dalam bunker. Untuk foto2 juga medannya agak sulit, menanjak dan berbatu, agak bahaya jika tidak hati2.

Pemandangan Gunung Merapi dari Bunker Kaliadem :

bunker

Selesai lokasi ketiga, kembali ke perjalanan ke basecamp. Dalam perjalanan, ketemu 2-3 jeep yang mogok di tengah jalan.

Sampai ke basecamp disediakan air mineral, teh atau kopi.

Tips untuk yang mau wisata jeep : pake sunblock, pake masker, dan pilih agent jeep yang bonafid untuk menghindari resiko mogok di tengah jalan, dan tidak cocok untuk anak kecil usia TK yang belum belajar sejarah gunung merapi.

So far trip jeep merapi cukup menyenangkan, coba sesuatu yang baru, tapi karena faktor U, berasa juga badan dan punggung pegal2 akibat medan off road yang guncangannya bikin sakit badan :(.

Selesai wisata jeep, kami mencari tempat makan siang, dan makan di Waroeng of Raminten di jalan Kaliurang.

Dari luar, restonya terlihat kecil, di ruangan depan hanya ada 1 meja, namun di belakangnya ternyata luas, ada meja dan juga ada lesehannya. Pegawainya berseragam blankon, dan banyak hiasan nuansa jawa di dalam resto.

Menu makanannya MURAH kaka,.. jadi saya pesan cukup banyak makanan, karena pikir dengan harga segitu, porsinya mungkin tidak banyak.

Taunya ketika datang, porsinya besar, dan kami semua kekenyangan untuk menghabiskan semua makanan :D.

Ayam Koteka dan Ayam Kecombrang :

Ayam koteka itu, semacam dada ayam giling, disteam pake telur dadar. Rasanya sih plain aja ya, kurang tasty. Ayam kecombrangnya enak, suwiran dada ayam ditopping sambal kecombrang.

Tumis Sawi 3 Rasa & Tumis Genjer :

Tumis sawinya enak, ada yang ditumis di bagian bawah, ditaburi dada ayam suwir goreng dan irisan daun sawi goreng. Tumis genjernya juga enak, ditumis sedikit pedas, dengan rasa terasi yang light.

Total kerusakan yang kami bayarkan untuk ayam koteka, ayam kemangi, jamur goreng crispy, sup iga, bandeng goreng, plecing kangkung, tumis genjer, sawi 3 rasa, nasi putih 4 porsi, es dawet, es segar, dan 3 gelas teh hangat cuman 210 ribuan aja.

Sambil menunggu makanan datang, bisa shopping di Hamzah batik (lokasinya bersebalahan, krn yang punya-nya sama).

Secara keseluruhan restonya enak untuk bersantai bersama keluarga, ada kolam ikan di outdoornya, rasa makanan sih standard (enak tapi tidak special banget), dengan harga dan porsi makanan sih worth it lah. Kekurangannya cuman satu, penyajiannya agak lama, untungnya kami datang belum terlalu lapar, jadi dimaafkan kekurangannya.,

Tips untuk berkunjung ke Ramintern, datangnya 1 jam sebelum makan siang, jadinya masih belum terlalu lapar, dan bisa menikmati suasana sambil menunggu makanan datang. Kalo pas lapar, saya takutnya udah emosi duluan,. Maklum orang kalo lagi lapar cepat emosi dan galak hahaha (self reminder 😀).

Setelah kenyang makan, kita menuju Candi Borobudur, perjalanan kurang lebih 1 jam, sampe sana sekitar jam 2 siang. Mataharinya malu2, kadang terik, kadang adem dan berangin.

Tiket masuk ke Borobudur, dewasa 40 ribu, anak2 20 ribu, lansia gratis.

Perjalanan menuju candi Borobudur sekarang bagus dan rapi ya, ada taman2, sehingga tidak berasa jauh untuk menuju candi. Well terakhir saya ke candi Borobudur udah lebih dari 10 tahun sih, no wonder lah ya udah banyak berubah hehe.

Begitu sampe ke depan candi, mulai deh perjuangannya, untuk menapaki tangga demi tangga dengan nafas ngos2an,.. (maklum olah raga hanya seminggu sekali, gini deh jadinya hihihihi).

Akhirnya berhasil juga sampai tangga tertinggi,.. masih bagus sih view dari atas, foto2 sebentar, dan krn si bocah yang suka lari2, dan matahari yang belum bersahabat, kita tidak lama di atas, krn panas booo,.. dan khawatir si  bocah lari2 malahan jatuh ke bawah, bahaya.

Sekarang di Borobudur sudah tidak boleh memegang stupa, karena dikhawatirkan batunya rusak dan mulai rapuh, jadi demi keamanan, tidak boleh pegang2 batunya lagi.

Perjalanan menuju pintu keluar, malesin banget ya, diputar2 ke toko2 souvenir yang banyak banget, dengan jenis jualan yang sama. Lumayan jauh pula muternya ,.. GRrrrrrrrrrrr 😦

Yang kurang berkesan di sini adalah banyakan pedagang di depan pintu gerbang yang cenderung memaksa, dan jalanan keluar yang mutar2 toko souvenir (untungnya pedagang di sini sih quite polite, hanya panggil2 dan tidak memaksa).

Sekian wisata hari pertama, sampai hotel sekitar jam 5-an, mandi, istirahat sebentar, dan lanjut makan malam.

Kita makan malam di Gajah Wong, yang lumayan terkenal dengan high class resto di Yogya. Dari depan sih tidak terlihat seperti resto mewah, ada bbrp ruangan outdoor dan indoor dengan live music.

Jenis makanannya perpaduan western dan Indonesian food, harganya cukup premium untuk ukuran Yogya, namun buat selera kami, rasanya kurang berkesan di lidah.

Selama menunggu makanan datang, dikasih kripik singkong.

Beberapa menu yang kami pesan : Nasi Goreng Sate, Opor Ayam (+Lontong) dan Salad Gajah Wong

Total makan malam hari ini hampir 500 ribu, ya setara lah kalo kita makan di café di Jakarta/Bandung.

Buat yang ingin menikmati dinner romantic bareng pasangan, boleh lah tempat ini dijajaki, tapi kalo untuk makan dengan anak sih kurang cocok.

Selesai hari pertama, kita lanjutkan hari kedua di postingan berikutnya,..

Trip to Yogyakarta 29-31 Maret 2018 – Part 1 (Transportasi & Akomodasi)

Liburan ke Yogyakarta ini, sebagai bagian dari visi mama untuk lebih banyak memperkenalkan tempat baru kepada para bocah, dan kebetulan si koko udah tau Candi Borobudur, jadi yuks lah cuz kita ke Yogya.

Karena masih trauma kejadian dua tahun yang lalu, pas naek pesawat balik dari Singapore ke Jakarta, dimana si bocil sama sekali ga mau pake seat belt di pesawat ketika sedang take off dan boarding. Jadi selama dipakein seat belt, nangis kencang sampai bikin ga enak hati dengan penumpang lain, akibat kejadian itu, dalam periode hampir 2 tahun, liburan yang dekat aja dg mobil.

Nah untuk trip ke Yogya ini, mama yang masih sedikit trauma, memutuskan untuk naik pesawat perginya aja, dan pulangnya coba naek kereta (sekalian memperkenalkan moda transportasi lain kepada bocah).

Transportasi

Perjalanan pergi kita naik air asia, jam 5.35. Sehingga harus berangkat jam 4 subuh dari rumah. Malamnya, para bocah udah disounding bahwa kita akan berangkat jam 4 pagi, jadi harus tidur cepat.

Saya itu punya alarm alami, yaitu si koko —–> anak yang pintar bangun pagi. Jam 3 subuh dia sudah bangun dan masuk ke kamar saya, membangunkan kami yang bahkan alarm hp aja belum bunyi 🙂

Singkat kata, perjalanan ke bandara cukup lancar, ga pake drama. Si bocil bertingkah laku manis, dan di pesawat dia mau duduk bareng kokonya. Jadi dia duduk satu row dengan koko + papa.

Tidak ada drama seat belt, si bocil liat kokonya pake seat belt dan dia juga pake seat belt. Sepanjang di pesawat duduk manis dan ngobrol. Jadi perjalanan pergi lancar jaya,.. Horeee…

Perjalanan pulang kita naek kereta jam 20.00. Sampe stasiun jam 18.30, masih nunggu sekitar 1 jam-an. Bocah udah pada ngantuk, tapi mereka mana bisa disuruh duduk diam untuk tidur di kursi, akhirnya diajak berkeliling stasiun oleh papanya.

Jam 19.30 kereta datang, dan sudah bisa naik, ketika dalam kereta, karena udah lewat ngantuknya, bocah tidak bisa langsung tertidur, sekitar 30 menit setelah kereta berjalan, baru para bocah tidur.

Ternyata lampu dalam kereta itu selalu nyala ya, since saya tidak terbiasa tidur dengan lampu nyala, agak lama saya baru bisa tertidur. Soalnya terakhir naik kereta malam hari itu udah lebih dari 10 tahun lalu, jadi lupa,..

Perjalanan naek kereta cukup nyaman juga, datang dan sampainya tepat waktu, tempat duduknya lega, rem kereta juga cukup smooth, jadi tidak berasa, hanya sedikit terganggu dengan lampu kereta dan suara TV yang keras banget (baru dikecilin jam 11-an kayanya, 3 jam setelah kereta berjalan hiks hiks).

Dan si koko bilang sama papanya, kalo dia ga suka naek kereta, it so boring katanya hahaha. Emang kudunya kalo bawa anak kudunya perjalanan siang hari ya, jadi mereka bisa lihat pemandangan di luar.

Ok next time kita trip naek kereta lagi di siang hari ya nak, tapi yang deket2 aja, biar ga boring 😛

Akomodasi

Di awal kita plan mau ke Yogya, saya dapat referensi dari salah satu web travel, dan tertarik sama salah The C**gkring**. Lihat di agoda, eh dapat tuh harga villa-nya yang lumayan murah dg kapasitas yang lumayan, cukup untuk kita sekeluarga (4 dewasa + 2 anak), dan kita booking deh di hotel tsb.

Jadi saya bikin itin-nya, based on hotel tsb, dan perjalanan dari dan ke hotel –nya cukup jauh (± 1 jam). Dua minggu sebelum keberangkatan, saya mulai galau, itu hotelnya koq jauh ya, jadi takes time di perjalanan.

Pikir kita satu hari di situ, hari lainnya di tempat lain aja, tapi udah booking via agoda langsung dua hari, kalo booking ulang, blm tentu dapat harga yang sama. Jadi ya udah lah diputuskan tetap aja di hotel tsb.

H-2 sebelum berangkat, saya mulai baca2 review hotel lagi, lho koq reviewnya tidak terlalu bagus ya, katanya hotel yang udah kita book tsb ga sebanding dengan bintang-nya, ada yang bilang hotelnya kotor (krn model resort di alam), terus banyak tanjakan, jarak ke lobby-nya juga jauh. Wah mulai merasa kayanya kurang cocok nih, apalagi saya bawa ortu umur 70, kayanya susah nih kalo banyak tanjakan.

Cek ke agoda, apakah kalo cancel udah di-charge atau belum, ternyata itu hari terakhir kalo mau booking for free.

Buka agoda lagi, eh tiba2 muncul tuh hotel Eastparc. Trus saya ingat kalo saya pernah baca tripnya salah satu blogger yang pernah nginep di hotel tsb, dan rekomendasinya bagus.

Total harga untuk 2 malam, lebih mahal daripada hotel yg sebelumnya sudah kita booking, krn di Eastparc kita booking dua kamar, sementara di sebelumnya kita booking 1 villa.

Dengan lokasi yang di kota, dan rekomendasi yang lebih baik, kita batalkan bookingan sebelumnya dan beralih ke booking di hotel Eastparc.

Letak hotel agak masuk ke jalan kecil, tapi tidak terlalu jauh dari jalan raya utama. Lobby-nya luas, dan proses check ini cepat.

Kita book untuk type Deluxe Twin Bed, kamarnya cukup luas tempat tidurnya dua single bed ukuran 120 cm, bantalnya dikasih 4, dan empuk. Ada balkon di luar kamar. WC-nya lumayan gede, tapi sayang tidak ada bathup, showernya mantap, besar aliran airnya.

Minibar dikasih for free setiap hari, ada 1 aqua botol 350  ml, teh sosro kotak, teh javana, sama semacam pulpy orange. Welcome snack dikasih Pia, buatan hotel yang rasanya enak.

hotel (12)

Pia tsb dijual juga secara komersial dengan brand Bakpia Jogja Istimewa. Saya pikir pia-nya dikasih tiap hari selama nginap, ternyata hanya hari pertama saja. Kan pikir lumayan kalo dikasih tiap hari, jadi bisa dijadikan oleh2,.. hahaha.

hotel (1)

Sarapan di Verandah Resto, ukuran resto tidak terlalu besar, mungkin karena terbagi dua antara outdoor dan indoor, menu sarapan lengkap dengan rasa yang enak.

hotel (10)

Untuk menu western, appetizer, dessert, dan egg station ada di indoor, sementara di outdoor menu Indonesia, dimsum, pancake, stand herbal tea yang bisa kita mixed sendiri, dan juga jamu tradisional.

Hari pertama (jumat pagi) , tamu hotel yang sarapan tidak terlalu ramai dibanding hari kedua (sabtu pagi). Nah pas hari kedua itu, kami dapat compliment dari hotel, krn suami berulang tahun di hari Jumat.

Jadi awalnya ada satu staff (sepertinya orang marketing) yang mendatangi saya untuk menanyakan feedback, dan nanya dari kamar nomor berapa. Setelah percakapan singkat, dia bilang akan kasih compliment snack/ice cream buat bocah. Ok deh, kita pikir lumayan juga kasih feedback dapat compliment.

Eh bbrp saat kemudian, ada staff F&B yang bawa kue ultah untuk pak suami, dan kasih ucapan happy birthday.

Pak suami cukup kaget menerima surprise tsb,.. hahaha.

Tapi koordinasi tim F&B-nya cukup hebat sih, bisa menemukan kami diantara banyaknya tamu yang sarapan (krn kondisi resto hampir semua meja penuh) dan setelah dipikir, staff marketing yang awal itu pasti tugasnya verifikasi pengunjung.

Saya sih ga liat dia sebelumnya keliling ke meja lain, tapi mungkin ada tapi saya ga lihat.

Ya kami cukup terkesan dengan surprise dan pelayanan yang mereka berikan.

Fasilitas Hotel untuk anak cukup ok, kolam renangnya sih tidak terlalu luas, tapi ok lah kalo untuk anak2, di kolam renang ada seluncur yang tinggi dan yang rendah untuk anak2. Ada kebun hidroponik, dan kids playground di samping bangunan hotel, yang meskipun kecil namun terawat dengan baik.

So far, saya rekomendasikan ini untuk menginap keluarga, dengan harga yang affordable mendapatkan fasilitas dan pelayanan yang baik.

Bersambung di posting berikutnya untuk wisata dan kuliner.

Walao Eh

Restoran ini lokasinya di gedung sendiri, sebelah plaza Summarecon, lupa nama gedungnya, yang pasti merupakan kantor pusat dari grup restoran ce wei, mister bakso dll, termasuk walao eh ini juga merupakan salah satu brand-nya.

Tempat ini buka sudah cukup lama, satu atau dua tahun yang lalu kali ya. Pertama kali coba makan di sini ketika baru buka, tergiur promo dari telkomsel.

Yang mana sampai saat ini juga masih aja sering promo telkomsel hehe.

Kesan pertama, tempatnya lucu, piring makannya gede, kalo rasanya sih biasa aja, sehingga tidak kembali lagi, sampai beberapa saat lalu, sering liat promo Walao Eh di Fave.

Ajak anak2 makan di sana, datang di jam nanggung yaitu jam 5 sore.

Saya emang orang anti mainstream yang ga terlalu suka keramaian, kalo ke mall atau ke tempat makan, selalu datang lebih awal, supaya ga penuh. Ya karena because, kedua bocah saya itu tipe ga bisa diam, jadi lebih baik mencari tempat yang tidak penuh, jadi lebih santai kitanya.

Interior restonya lucu, ceilingnya tinggi, enak lah untuk ngobrol santai bersama teman dan keluarga.

Bemodalkan dua voucher yang sudah kita beli, kita order :

  • Fish and Chip

Ini beli untuk si bocah. Rasanya sih standard lah, harganya kalo ga salah 45 ribu.

IMG_20171224_165915

  • Juice Kedondong Kiamboy

Ini enak, perpaduan asam manis asin yang pas, dengan rasa kedondongnya yang asli, bukan sirop. Kalo ga salah harganya 20 ribuan.

IMG_20171224_165514

  • Milo Dinosaurus

Ini menu yang direkomendasikan kalo ke walah Oh, cuman milo aja sih, tapi disajikan di gelas gede, yang minum ber4 aja masih lebih.

Milonya berasa, dan dinginnya pas, ditambah serbuk milo yang di atasnnya juga cukup banyak.

Harganya 45 ribu sebelum tax.

IMG_20171224_165531

  • Bakso Rawit

Baksonya sih lumayan, tapi kuahnya ga panas, padahal bakso ini datang paling terakhir. Ini tipe bakso yang disajikan di mister bakso.

IMG_20171224_170423

Total menu di atas plus sop wonton + nasi kalo ga salah totalnya 300 ribuan. Pas sesuai voucher yang dibeli (harga beli vouchernya 180 ribu).

So far menu makannya sih standard, masih banyak restoran lain dengan harga sama, tapi rasa jauh lebih enak.

Ya cocok untuk beli suasana aja, dan kalo mau santai sore hari, sambil menikmati milo sih worth it lah 🙂

Petunjuk WC-nya lucu :

IMG_20171224_172457

Pas mau pulang, lewat ke bagian belakang, eh ada kandang burung. Lucu burungnya

IMG_20171224_172520

Besok2 balik lagi deh, cuman untuk menikmati santai sore ditemani segelas besar Milo hahaha.

Salam Makan Enak

Walao Eh

Jalan Boulevard Gading Serpong Blok M5 No. 5,

Gading Serpong, Curug Sangereng, Klp. Dua, Tangerang, Banten 15810